Blog

  • Tak Bayar Usai Ngeseks, Lansia Dihajar Wanita Pakai Balok Kayu

    Close up of female feet in under the sheets.

    Sulawesi – Warga dikejutkan dengan insiden tak biasa, seorang pria lanjut usia (lansia) menjadi korban penganiayaan usai diduga enggan membayar wanita yang telah melayani hubungan intim.

    Kronologi Kejadian

    Peristiwa bermula saat lansia tersebut mendatangi seorang wanita di wilayahnya untuk berhubungan badan. Namun, setelah usai, pria itu menolak memberikan uang bayaran sesuai kesepakatan. Hal ini memicu emosi sang wanita yang kemudian mengambil balok kayu dan menghajar korban.

    Korban Babak Belur

    Lansia tersebut mengalami luka di bagian tubuh akibat pukulan. Warga sekitar yang mendengar keributan segera datang dan melerai perkelahian. Korban kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.

    Proses Hukum

    Kasus ini tidak berhenti begitu saja. Polisi setempat turun tangan setelah menerima laporan dari keluarga korban. Saat ini, wanita pelaku penganiayaan masih dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Polisi menyebut kasus ini akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

    Baca Juga : Harap-harap Cemas Keluarga Iringi Evakuasi Mahasiswa RI dari Sudan

    Reaksi Warga

    Kabar ini sontak menghebohkan warga sekitar. Sebagian menyayangkan tindakan kekerasan yang terjadi, sementara yang lain menilai peristiwa tersebut menjadi pelajaran agar perjanjian apa pun, termasuk dalam transaksi ilegal, tidak menimbulkan masalah serius.

    Tag: Lansia, Penganiayaan, Sulawesi, Balok Kayu

    Kategori: Kriminal, Daerah, Peristiwa

  • Harap-harap Cemas Keluarga Iringi Evakuasi Mahasiswa RI dari Sudan

    Kondisi mencekam di Sudan imbas perang saudara

    Jakarta – Keluarga mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Sudan diliputi rasa harap-harap cemas. Mereka terus menantikan kabar evakuasi anak-anaknya di tengah situasi konflik yang belum mereda.

    Situasi di Sudan Masih Memanas

    Sudan masih menghadapi konflik bersenjata yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Kondisi keamanan yang tak menentu membuat ribuan warga asing, termasuk mahasiswa Indonesia, harus segera dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

    Keluarga Menunggu dengan Gelisah

    Para orang tua mahasiswa di berbagai daerah Indonesia mengaku terus memantau perkembangan melalui media dan komunikasi terbatas dengan anak mereka. Banyak yang sulit tidur, merasa khawatir, dan hanya bisa berharap proses evakuasi berjalan lancar.

    Pemerintah RI Pastikan Evakuasi Aman

    Kementerian Luar Negeri bersama TNI telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengevakuasi WNI dari Sudan. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan faktor keamanan dan jalur transportasi yang tersedia. Pemerintah juga menyiapkan pos penampungan sementara sebelum pemulangan ke Indonesia.

    Dukungan Psikologis untuk Keluarga

    Selain langkah teknis evakuasi, pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan memberikan dukungan psikologis kepada keluarga mahasiswa. Hal ini dilakukan agar mereka tetap tenang dan tidak panik berlebihan menunggu kepulangan anak-anaknya.

    Harapan Besar Kepulangan

    Bagi keluarga, kepulangan anak-anak mereka adalah prioritas utama. Mereka berharap semua mahasiswa Indonesia di Sudan dapat segera kembali ke tanah air dengan selamat, serta bisa melanjutkan pendidikan tanpa rasa takut akibat konflik bersenjata.

    Tag: ,Sudan,Evakuasi,Konflik,Indonesia, Mahasiswa RI,Kemenlu,Kategori: ,Internasional,Peristiwa,Kemanusiaan,

  • Mobil di Malili Luwu Timur Terbakar Usai Isi BBM di SPBU

    Mobil terbakar usai isi BBM di SPBU Malili Luwu Timur.

    Malili, Luwu Timur – Sebuah insiden kebakaran mobil terjadi di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan warga dan pengguna jalan yang sedang berada di sekitar lokasi.

    Kebakaran tersebut terjadi pada Sabtu siang (6/9/2025), tak lama setelah mobil jenis minibus selesai mengisi bahan bakar. Api tiba-tiba muncul dari bagian mesin depan kendaraan dan dengan cepat membesar hingga melalap hampir seluruh bodi mobil.

    Kronologi Kejadian

    Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, mobil awalnya parkir tidak jauh dari dispenser BBM. Saat pengemudi hendak menyalakan mesin, tiba-tiba terdengar suara letupan kecil disusul percikan api. Api dengan cepat menjalar ke bagian kap mesin dan menyebabkan kepulan asap tebal membumbung ke udara.

    Petugas SPBU bersama warga sekitar segera berusaha melakukan pemadaman menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, api semakin membesar hingga akhirnya tim pemadam kebakaran dari Dinas Damkar Luwu Timur turun tangan untuk mengendalikan kobaran api.

    Tidak Ada Korban Jiwa

    Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pengemudi dan penumpang berhasil keluar dari kendaraan sebelum api membesar. Meski demikian, mobil mengalami kerusakan parah dan nyaris tidak bisa diselamatkan.

    Kepolisian setempat bersama tim forensik masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik di bagian mesin atau kebocoran pada sistem bahan bakar.

    Kondisi SPBU Aman

    Pihak SPBU memastikan bahwa insiden ini tidak mengganggu operasional pengisian BBM. Petugas keamanan langsung menutup sementara jalur pengisian dan mengamankan area agar api tidak merembet ke fasilitas SPBU yang lain.

    “Kami sudah melakukan protokol darurat. Api berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari 30 menit dan SPBU tetap aman untuk digunakan kembali,” ujar salah satu pengelola SPBU.

    Imbauan Keselamatan

    Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga standar keselamatan saat berada di area SPBU. Kepolisian dan pihak Pertamina mengimbau pengguna kendaraan untuk:

    • Mematikan mesin kendaraan saat mengisi bahan bakar.
    • Tidak menggunakan ponsel atau perangkat elektronik yang berpotensi memicu percikan api.
    • Segera menjauh jika mencium bau bensin yang menyengat dari kendaraan.
    • Melakukan perawatan rutin terhadap instalasi listrik kendaraan.

    Tanggapan Warga

    Baca Juga : Mensos Resmikan 20 Unit Bantuan Rumah Knockdown di Makassar

    Warga sekitar Malili yang menyaksikan kejadian tersebut mengaku panik dan khawatir api akan merembet ke tangki penyimpanan bahan bakar. Namun, kesigapan petugas SPBU dan tim pemadam membuat kebakaran dapat segera diatasi.

    “Kami kira SPBU akan ikut terbakar, untungnya cepat ditangani. Mobilnya memang sudah hangus, tapi syukurlah tidak ada korban,” ungkap salah seorang warga yang berada di lokasi.

    Tag: ,Luwu Timur,Mobil Terbakar,SPBU,Malili,Kebakaran Kendaraan,

    Kategori: ,Sulawesi Selatan,Peristiwa,Daerah,

  • Mensos Resmikan 20 Unit Bantuan Rumah Knockdown di Makassar

    Kemensos

    Makassar – Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia meresmikan pembangunan 20 unit rumah knockdown bantuan pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat (5/9/2025). Peresmian ini merupakan bagian dari program penyediaan hunian layak yang digagas pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Program Rumah Knockdown untuk Masyarakat

    Rumah knockdown merupakan hunian sederhana yang dapat dibangun dengan cepat menggunakan material prefabrikasi, sehingga lebih efisien dari segi biaya dan waktu. Konsep ini dinilai tepat untuk menjawab kebutuhan perumahan bagi masyarakat kurang mampu yang selama ini kesulitan memiliki tempat tinggal layak.

    Dalam sambutannya, Mensos menegaskan bahwa rumah knockdown bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga wujud nyata kepedulian negara dalam memberikan tempat tinggal yang aman dan sehat bagi keluarga penerima manfaat.

    Apresiasi dan Harapan Mensos

    Mensos mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, relawan, dan seluruh pihak yang membantu menyukseskan program ini. Ia berharap 20 unit rumah yang baru diresmikan dapat menjadi titik awal bagi program serupa di berbagai daerah lain di Indonesia.

    “Rumah ini adalah hak warga yang memang berhak mendapatkannya. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat yang kurang mampu tidak lagi tinggal di hunian tidak layak,” ujar Mensos dalam pidatonya.

    Tanggapan Penerima Manfaat

    Sejumlah penerima bantuan rumah knockdown menyampaikan rasa syukur dan bahagia atas program tersebut. Mereka menilai bantuan ini sangat membantu, apalagi sebelumnya banyak dari mereka yang tinggal di rumah semi permanen yang tidak aman saat hujan atau bencana.

    “Kami sangat berterima kasih. Sekarang kami punya rumah yang lebih layak dan bisa hidup lebih tenang bersama keluarga,” ungkap salah seorang warga penerima manfaat di Makassar.

    Baca Juga : [KLARIFIKASI] Ini Video Pergerakan Massa di Makassar, Bukan Bekasi

    Dukungan Pemerintah Daerah

    Pemerintah Kota Makassar menyambut baik langkah ini dan siap bekerja sama dengan Kementerian Sosial dalam memperluas pembangunan rumah knockdown di wilayah lain. Selain itu, Pemkot juga menyiapkan program pendampingan agar keluarga penerima manfaat dapat memelihara rumah mereka dengan baik.

    Diharapkan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini mampu menjadi solusi jangka panjang untuk persoalan perumahan bagi masyarakat miskin perkotaan.

    Tag: ,Mensos,Rumah Knockdown,Makassar,Bantuan Sosial,Hunian Layak,

    Kategori: ,Sosial,Pemerintah,Pembangunan,Berita Daerah,Sulawesi Selatan,

  • [KLARIFIKASI] Ini Video Pergerakan Massa di Makassar, Bukan Bekasi

    Klarifikasi, ini video pergerakan massa di Makassar, bukan Bekasi

    Video Viral di Media Sosial

    Beberapa hari terakhir, sebuah video pergerakan massa beredar luas di media sosial dengan narasi bahwa kejadian tersebut berlangsung di Bekasi. Video itu menampilkan kerumunan orang bergerak di jalan raya dengan pengawalan aparat. Narasi yang menempel pada unggahan itu memicu kebingungan publik karena informasi lokasi tidak akurat.

    Klarifikasi Asal Lokasi Video

    Setelah dilakukan penelusuran, fakta menunjukkan bahwa video tersebut bukan dari Bekasi. Sumber resmi menyatakan bahwa kejadian itu berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa tanda khas, seperti papan nama jalan, arsitektur gedung, dan logat masyarakat sekitar, menguatkan bukti bahwa lokasi sebenarnya berada di Makassar.

    Respons Warganet dan Media

    Banyak warganet yang awalnya percaya dengan narasi salah kemudian menyadari kesalahan setelah klarifikasi muncul. Beberapa media arus utama juga segera melakukan verifikasi dan menyatakan bahwa informasi awal tidak benar. Peralihan dari kabar simpang siur menuju fakta ini menegaskan pentingnya cek ulang sebelum membagikan konten.

    Pentingnya Verifikasi Informasi

    Klarifikasi mengenai video pergerakan massa di Makassar, bukan Bekasi menjadi pelajaran penting. Di era digital, video atau foto dapat dengan cepat menyebar tanpa konteks. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi. Menggunakan kata transisi seperti “selain itu” dan “sementara itu” membantu memahami bahwa konteks bisa berbeda antara narasi dan fakta di lapangan.

    Baca Juga : Pemprov Sulsel Jamin Layanan RS Tetap Maksimal Usai Redistribusi 800 Nakes

    Penutup

    Kebenaran lokasi pada video pergerakan massa ini sudah terkonfirmasi berasal dari Makassar. Bukan Bekasi, sebagaimana klaim awal di media sosial. Dengan klarifikasi ini, diharapkan publik semakin berhati-hati, serta lebih mengedepankan sikap kritis dalam membedakan fakta dan opini di ruang digital.

    Kategori: Klarifikasi, Fakta Media, Nasional

    Tag: video pergerakan massa, Makassar bukan Bekasi, klarifikasi video, hoaks, verifikasi informasi

    Topik: Literasi Digital, Media Sosial, Fakta vs Hoaks

  • Pemprov Sulsel Jamin Layanan RS Tetap Maksimal Usai Redistribusi 800 Nakes

    Kantor Gubernur Sulsel.

    Makassar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) memastikan bahwa redistribusi 800 tenaga kesehatan (nakes) ke sejumlah fasilitas kesehatan tidak akan mengganggu kualitas layanan rumah sakit. Langkah ini dilakukan untuk pemerataan tenaga medis di daerah yang sebelumnya kekurangan sumber daya.

    Dengan adanya kebijakan tersebut, Pemprov menegaskan seluruh rumah sakit di bawah naungan pemerintah daerah tetap memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

    Tujuan Redistribusi Nakes

    Redistribusi dilakukan karena adanya ketimpangan jumlah tenaga kesehatan di beberapa kabupaten/kota di Sulsel. Sejumlah daerah dilaporkan mengalami kelebihan tenaga medis, sementara daerah lain justru kekurangan. Melalui langkah ini, Pemprov berharap akses layanan kesehatan menjadi lebih merata.

    Selain itu, kebijakan ini sejalan dengan program nasional dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan berbasis pemerataan.

    Komitmen Layanan Rumah Sakit

    Kepala Dinas Kesehatan Sulsel menegaskan bahwa manajemen rumah sakit telah melakukan penyesuaian jadwal kerja dan sistem pelayanan. Dengan begitu, meski ada perpindahan nakes, layanan kepada pasien tetap berjalan tanpa hambatan.

    “Kami berkomitmen agar masyarakat tetap mendapatkan layanan cepat, aman, dan maksimal di seluruh rumah sakit,” ujarnya.

    Baca Juga : 10 Kota dengan Skor Toleransi Terendah di Indonesia, Cilegon-Makassar

    Tanggapan Masyarakat

    Sejumlah pasien dan keluarga pasien menyambut baik langkah redistribusi ini. Mereka menilai kebijakan tersebut penting agar semua wilayah Sulsel bisa menikmati fasilitas kesehatan yang setara.

    Tokoh masyarakat pun memberikan apresiasi kepada Pemprov karena telah mengambil langkah preventif agar pelayanan publik tidak terganggu.

    Kategori: Kesehatan, Pemerintahan, Sulawesi Selatan

    Tag: Nakes, Pemprov Sulsel, Rumah Sakit, Redistribusi Tenaga Kesehatan, Layanan Publik

    Topik: Pemerataan Tenaga Kesehatan di Sulawesi Selatan

  • Forkopimda hingga Tokoh Masyarakat Kompak Deklarasi Damai Jaga Sulsel

    Forkopimda hingga tokoh masyarakat kompak deklarasi damai jaga Sulsel

    Makassar – Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Selatan bersama para tokoh masyarakat, pemuka agama, dan perwakilan organisasi kepemudaan menggelar deklarasi damai di Makassar. Acara ini bertujuan untuk meredam ketegangan sosial pasca kericuhan yang sempat terjadi dalam beberapa aksi unjuk rasa.

    Dalam deklarasi tersebut, seluruh pihak sepakat menjaga keamanan, ketertiban, dan kondusivitas wilayah Sulsel agar aktivitas masyarakat dan roda pemerintahan tetap berjalan normal.

    Poin-Poin Deklarasi Damai

    Deklarasi damai yang dibacakan bersama berisi komitmen untuk:

    • Menolak segala bentuk kekerasan dan provokasi yang memecah belah masyarakat.
    • Menjaga persatuan dan kesatuan di Sulsel di atas kepentingan kelompok maupun individu.
    • Mendukung proses hukum yang adil dan transparan terhadap pihak-pihak yang terlibat kerusuhan.
    • Mengutamakan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan konflik.

    Para tokoh yang hadir menegaskan bahwa kedamaian adalah syarat utama untuk pembangunan daerah.

    Pernyataan Forkopimda

    Kapolda Sulsel menyampaikan bahwa aparat keamanan siap menjaga situasi tetap aman. Namun, ia menekankan bahwa keamanan bukan hanya tugas polisi dan TNI, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

    Sementara itu, Gubernur Sulsel menegaskan bahwa deklarasi damai ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan kepercayaan publik. “Kami berharap semangat kebersamaan ini terus terjaga demi kesejahteraan seluruh warga Sulawesi Selatan,” ujarnya.

    Baca Juga : Malili Luwu Timur Fokus Pengembangan Industri dan Infrastruktur

    Dukungan Tokoh Masyarakat

    Tokoh masyarakat, pemimpin adat, serta perwakilan organisasi pemuda menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Forkopimda. Mereka menilai, tanpa persatuan, Sulsel akan sulit berkembang. Deklarasi ini juga dianggap sebagai simbol bahwa perbedaan pandangan bisa diselesaikan dengan cara yang damai.

    Salah satu pemuka agama menambahkan bahwa doa dan spiritualitas juga perlu digelorakan agar Sulsel selalu terhindar dari konflik berkepanjangan.

    Kategori: Politik, Pemerintahan, Sulawesi Selatan

    Tag: Forkopimda, Deklarasi Damai, Tokoh Masyarakat, Sulsel, Keamanan

    Topik: Komitmen Bersama Jaga Kedamaian Sulawesi Selatan

  • Malili Luwu Timur Fokus Pengembangan Industri dan Infrastruktur

    Kementerian PUPR Bangun Infrastruktur untuk Mendukung Pengembangan Kawasan dan Konektivitas Pulau Sulawesi

    Ibu Kota Kabupaten Luwu Timur

    Malili, Luwu Timur – Sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Luwu Timur, Malili memainkan peran strategis dalam pembangunan daerah. Kota ini tidak hanya menjadi pusat administrasi, tetapi juga sebagai pusat ekonomi yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah timur Sulawesi Selatan.

    Dengan posisi yang strategis, Malili menjadi jalur penting penghubung antara kawasan industri pertambangan dan wilayah perkebunan. Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur transportasi terus ditingkatkan agar distribusi hasil produksi lebih efisien.

    Pembangunan Infrastruktur untuk Pertumbuhan Ekonomi

    Pemerintah daerah Luwu Timur gencar membangun fasilitas publik, mulai dari jalan raya, jembatan, hingga pasar rakyat. Selain itu, peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pendidikan juga menjadi prioritas demi kesejahteraan masyarakat.

    Langkah strategis ini diharapkan mampu memperkuat posisi Malili sebagai kota yang siap bersaing dalam sektor industri maupun jasa. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Malili juga terbuka untuk investasi di berbagai bidang.

    Sektor Industri dan Pertambangan

    Luwu Timur dikenal sebagai salah satu daerah dengan sumber daya alam melimpah, terutama di sektor pertambangan nikel. Malili menjadi pusat administrasi yang mendukung aktivitas perusahaan tambang di wilayah sekitarnya.

    Selain tambang, perkebunan kelapa sawit dan kakao juga berkembang di kawasan ini. Pemerintah daerah berupaya mendorong pengolahan hasil perkebunan agar memiliki nilai tambah lebih tinggi, sehingga tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

    Pelayanan Publik Berbasis Digital

    Pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah menerapkan sistem digitalisasi layanan publik. Warga kini lebih mudah mengakses berbagai layanan administrasi tanpa harus menunggu lama di kantor pemerintahan.

    Program digitalisasi ini memberikan efisiensi, transparansi, dan kepastian hukum bagi masyarakat. Dengan demikian, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan daerah semakin meningkat.

    Baca Juga : Biografi Singkat WR Supratman: Dari Jatinegara hingga ke Makassar dan Surabaya

    Harapan Masa Depan Malili

    Dengan dukungan sumber daya alam, infrastruktur modern, dan pelayanan publik yang semakin baik, Malili diharapkan tumbuh menjadi kota yang lebih maju. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, Malili juga berpotensi menjadi pusat industri dan perdagangan di kawasan timur Sulawesi Selatan.

    Kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan. Dengan sinergi yang kuat, Malili bisa menjadi salah satu daerah unggulan di Sulawesi Selatan.


    Kategori: Pembangunan Daerah, Ekonomi Lokal, Sulawesi Selatan

    Tags: Malili, Luwu Timur, Infrastruktur, Pertambangan, Layanan Publik

    Topik: Pembangunan Infrastruktur, Ekonomi Daerah, Digitalisasi Layanan Publik

     

  • 10 Kota dengan Skor Toleransi Terendah di Indonesia, Cilegon-Makassar

    Sejumlah orang mengatasnamakan Komite Penyelamat Kearifan Lokal Kota Cilegon menolak pendirian gereja di Cilegon, Banten. (M Iqbal/detikcom)

    Setara Institute merilis Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang menyoroti tingkat toleransi di berbagai daerah di Indonesia. Laporan ini memuat sepuluh kota dengan skor toleransi terendah, termasuk Cilegon di Banten dan Makassar di Sulawesi Selatan.

    Indeks Kota Toleran 2025

    Indeks Kota Toleran mengukur kinerja pemerintah kota dalam mengelola keberagaman agama, etnis, dan budaya. Penilaian didasarkan pada empat indikator utama: regulasi pemerintah kota, tindakan pemerintah, pernyataan pejabat publik, serta tingkat peristiwa pelanggaran kebebasan beragama di wilayah tersebut.

    Setara Institute melakukan riset terhadap 100 kota di Indonesia. Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara kota dengan skor tertinggi dan kota dengan skor terendah.

    10 Kota dengan Skor Terendah

    Berdasarkan laporan terbaru, berikut daftar 10 kota dengan skor toleransi terendah:

    1. Cilegon
    2. Makassar
    3. Banda Aceh
    4. Depok
    5. Sabang
    6. Padang
    7. Serang
    8. Ternate
    9. Pekanbaru
    10. Bima

    Kota-kota tersebut mendapat sorotan karena rendahnya perlindungan terhadap kebebasan beragama, masih adanya diskriminasi dalam kebijakan publik, hingga lemahnya penegakan hukum terhadap intoleransi.

    Faktor Penyebab Skor Rendah

    Setara Institute menilai sejumlah faktor yang memengaruhi rendahnya skor toleransi, antara lain:

    • Kebijakan pemerintah kota yang membatasi pendirian rumah ibadah.
    • Pernyataan pejabat publik yang cenderung diskriminatif.
    • Minimnya program inklusif untuk memperkuat kerukunan warga.
    • Masih sering terjadi penolakan kelompok minoritas dalam praktik sosial keagamaan.

    Kondisi ini menunjukkan perlunya perbaikan serius agar kota-kota tersebut dapat meningkatkan kualitas tata kelola keberagaman.

    Respon Pemerintah Daerah

    Beberapa pemerintah kota menanggapi laporan ini dengan beragam cara. Pemerintah Kota Makassar, misalnya, menyatakan akan meningkatkan dialog antarumat beragama melalui forum kerukunan. Sementara Pemerintah Kota Cilegon berkomitmen meninjau ulang aturan soal pendirian rumah ibadah yang selama ini menuai kritik.

    Di sisi lain, beberapa pejabat daerah menganggap penilaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi masyarakat. Namun, organisasi masyarakat sipil menekankan pentingnya laporan ini sebagai bahan evaluasi.

    Baca Juga :

    Biografi Singkat WR Supratman: Dari Jatinegara hingga ke Makassar dan Surabaya

    Pentingnya Indeks Toleransi

    Indeks Kota Toleran menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat sipil untuk memperbaiki kualitas kebijakan inklusif. Dengan data ini, kota-kota di Indonesia diharapkan mampu memperkuat nilai keberagaman yang menjadi bagian dari identitas bangsa.

    “Toleransi adalah fondasi utama kehidupan demokratis di Indonesia. Jika sebuah kota gagal menjaga kerukunan, maka masyarakat akan rentan terpecah,” kata peneliti Setara Institute dalam laporannya.

    Kategori: Nasional, Sosial

    Tag: Toleransi, Indeks Kota Toleran, Setara Institute

    Topik: Kerukunan Umat, Kebijakan Publik, Keberagaman

  • Biografi Singkat WR Supratman: Dari Jatinegara hingga ke Makassar dan Surabaya

    WR Supratman

    WR Supratman dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”. Perjalanan hidupnya mencerminkan dedikasi seorang seniman yang berjuang melalui musik. Dari Jatinegara, Makassar, hingga Surabaya, kisah hidupnya penuh inspirasi.

    Masa Kecil di Jatinegara

    Wage Rudolf Supratman lahir pada 19 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan ayah seorang prajurit KNIL. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan minat pada musik. Dengan dukungan keluarganya, bakat tersebut semakin berkembang.

    Pendidikan dan Awal Perjalanan Musik

    Setelah menempuh pendidikan dasar, Supratman pindah ke Makassar mengikuti kakaknya, Roekijem. Di kota ini, ia mendapat kesempatan belajar lebih banyak. Ia mulai mengenal biola dan mempelajari teori musik Barat. Dengan rajin, ia mengasah kemampuan hingga menjadi pemain biola yang terampil.

    Kehidupan di Makassar

    Di Makassar, WR Supratman bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ia juga melanjutkan pendidikan musiknya di sekolah menengah. Kehidupan di kota pelabuhan ini memberinya pengalaman berharga. Ia mengenal dunia seni dan kebudayaan dari berbagai bangsa yang singgah di Makassar.

    Pindah ke Surabaya

    Setelah menamatkan pendidikannya, Supratman pindah ke Surabaya. Di kota ini, ia aktif sebagai wartawan dan pemain musik. Ia berinteraksi dengan kaum pergerakan nasional, yang kelak menginspirasi lahirnya karya agungnya. Surabaya menjadi saksi kedewasaan musikalitas sekaligus semangat kebangsaannya.

    Lahirnya “Indonesia Raya”

    Puncak perjalanan hidup WR Supratman adalah saat menciptakan lagu “Indonesia Raya”. Lagu ini pertama kali diperdengarkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 di Jakarta. Dengan biola kesayangannya, ia memainkan lagu itu di hadapan para pemuda dari berbagai daerah. Sejak saat itu, “Indonesia Raya” menjadi simbol persatuan bangsa.

    Baca Juga :

    Makassar Pusat MICE Indonesia Timur, 3 Fasilitas Baru Resmi Beroperas

    Akhir Hidup

    WR Supratman wafat pada 17 Agustus 1938 di Surabaya dalam usia 35 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Namun, warisannya abadi melalui lagu kebangsaan yang terus berkumandang hingga hari ini.

    Kesimpulan

    Kisah hidup WR Supratman menunjukkan bahwa musik bisa menjadi senjata perjuangan. Dari Jatinegara hingga Surabaya, ia mendedikasikan hidupnya untuk bangsa. Karyanya tidak hanya menginspirasi generasi pergerakan, tetapi juga tetap hidup dalam setiap hati rakyat Indonesia.