Blog

  • Makassar Pusat MICE Indonesia Timur, 3 Fasilitas Baru Resmi Beroperasi

    Peresmian Plataran Makassar Venues and Dining di Summarecon Mutiara Makassar, Jumat (15/8/2025).

     

    Makassar Tingkatkan Daya Tarik MICE

    Makassar — Kota Makassar resmi memperkuat posisinya sebagai pusat MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) di Indonesia Timur. Pemerintah kota dan pengelola fasilitas baru meresmikan tiga gedung pendukung MICE sekaligus.

    Selain itu, langkah ini bertujuan meningkatkan kapasitas kota dalam menyelenggarakan konferensi, pameran, dan acara bisnis skala besar di kawasan timur Indonesia.

    Tiga Fasilitas Baru

    Ketiga fasilitas baru tersebut meliputi convention hall modern, auditorium berkapasitas besar, dan pusat pameran yang dilengkapi teknologi canggih. Petugas memastikan semua fasilitas memenuhi standar internasional.

    Dengan fasilitas ini, Makassar dapat menampung ribuan peserta sekaligus, sekaligus menyediakan ruang pertemuan, layanan katering, dan area pameran yang lengkap.

    Manfaat Ekonomi

    Pemerintah kota menilai pengembangan MICE akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Hotel, restoran, transportasi, dan sektor jasa terkait langsung merasakan manfaat dari peningkatan jumlah acara.

    Selain itu, event MICE skala nasional maupun internasional dapat meningkatkan citra Makassar sebagai kota tujuan bisnis sekaligus wisata.

    Dukungan Infrastruktur

    Pemerintah juga memperkuat infrastruktur pendukung, termasuk transportasi, akses jalan, dan bandara. Dengan demikian, peserta MICE bisa dengan mudah mencapai lokasi acara dari berbagai kota di Indonesia maupun luar negeri.

    Selain itu, jaringan internet berkecepatan tinggi dan sistem IT modern memastikan acara berjalan lancar dan efisien.

    Baca Juga :

    Dilaporkan Balik Rektor UNM, Dosen Q Ungkap Ada Upaya Bujuk Damai dan Tawar Jabatan

    Harapan Pemerintah

    Wali kota berharap fasilitas baru ini menjadikan Makassar tuan rumah utama berbagai acara bisnis dan konferensi. Dengan dukungan fasilitas dan infrastruktur, Makassar siap bersaing dengan kota MICE lainnya di Asia Tenggara.

    Selain itu, pemerintah mendorong pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan peluang bisnis yang muncul dari sektor MICE ini.

    Kategori: Ekonomi, Daerah, Pariwisata

    Tag: Makassar, MICE, Convention Hall, Pameran, Infrastruktur

     

  • Dilaporkan Balik Rektor UNM, Dosen Q Ungkap Ada Upaya Bujuk Damai dan Tawar Jabatan

    Universitas Negeri Makassar.

    Laporan Balik Rektor UNM

    Makassar — Konflik antara Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan seorang dosen, sebut saja Dosen Q, semakin memanas. Setelah sebelumnya Dosen Q melaporkan Rektor, kini rektor justru melayangkan laporan balik ke kepolisian.

    Langkah hukum ini menambah panjang daftar persoalan internal kampus yang sebelumnya sudah ramai dibicarakan publik.

    Pengakuan Dosen Q

    Dosen Q mengungkapkan bahwa sebelum laporan balik dilayangkan, dirinya sempat mendapat ajakan untuk berdamai. Menurut pengakuannya, ada pihak yang mencoba menengahi dengan menawarkan jabatan tertentu sebagai solusi.

    “Saya diminta mempertimbangkan penyelesaian secara damai dengan imbalan posisi di salah satu unit. Namun saya menolak karena persoalan ini menyangkut integritas,” kata Dosen Q saat ditemui wartawan.

    Upaya Bujuk Damai

    Menurut Dosen Q, bujukan tersebut disampaikan melalui perantara yang mengaku dekat dengan pihak rektorat. Ia menilai tawaran itu justru memperkuat dugaan bahwa masalah ini berhubungan dengan kepentingan jabatan.

    “Saya lebih memilih proses hukum berjalan transparan daripada menyelesaikannya dengan kompromi yang bisa menimbulkan persepsi negatif,” lanjutnya.

    Sikap Tegas Terhadap Tawaran Jabatan

    Dosen Q menegaskan dirinya tidak tergiur dengan tawaran jabatan. Ia menilai dunia akademik harus dijaga dari praktik transaksional yang bisa merusak citra institusi.

    Ia juga menyatakan, jika tawaran tersebut benar berasal dari lingkaran rektorat, maka hal itu mencerminkan budaya yang tidak sehat dalam tata kelola kampus.

    Langkah Rektor UNM

    Di sisi lain, Rektor UNM membantah tudingan adanya bujukan damai. Ia menyebut laporan balik dilakukan murni karena merasa nama baiknya dicemarkan.

    “Saya hanya menempuh jalur hukum sesuai prosedur. Semua tuduhan yang dialamatkan kepada saya tidak benar,” ujar rektor dalam pernyataan tertulis.

    Reaksi Civitas Akademika

    Kasus ini memicu perdebatan di kalangan civitas akademika UNM. Sebagian dosen menilai konflik personal seharusnya tidak dibawa ke ranah hukum. Namun, sebagian lain mendukung langkah Dosen Q yang menuntut transparansi.

    Mahasiswa juga mulai menyoroti polemik ini karena dianggap dapat memengaruhi suasana akademik dan kepercayaan publik terhadap kampus.

    Pandangan Pengamat Pendidikan

    Pengamat pendidikan dari Universitas Hasanuddin, Andi Rahman, menilai kasus ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi.

    “Seharusnya kampus menjadi ruang dialog dan penyelesaian intelektual, bukan arena konflik yang diselesaikan dengan tawar-menawar jabatan,” ujarnya.

    Proses Hukum yang Berjalan

    Kepolisian Sulawesi Selatan mengonfirmasi laporan dari kedua belah pihak sudah diterima. Saat ini, penyidik masih mengumpulkan keterangan awal untuk menentukan langkah lanjutan.

    Pihak kepolisian juga mengimbau agar semua pihak menghormati proses hukum dan tidak membuat spekulasi yang memperkeruh suasana.

    Baca Juga :

    Kisah Adam Air Salah Mendarat: Pilot Tak Sadar Pesawat Keluar Jalur, Penumpang Mengira Tiba di Sulawesi

    Harapan Penyelesaian

    Dosen Q berharap proses hukum bisa berjalan tanpa intervensi. Ia menekankan bahwa keadilan lebih penting daripada tawaran jabatan yang bersifat sementara.

    “Kalau kampus ingin bersih, biarkan hukum berjalan. Jangan ada tawar-menawar di luar itu,” tegasnya.

    Kategori: Nasional, Pendidikan

    Tag: UNM, Rektor UNM, Dosen UNM, Kasus Hukum, Pendidikan Tinggi

     

  • Sepatu Paskibra Luwu Timur Viral, Harga Asli Jutaan Rupiah tapi Rusak Sekali Pakai

    Anggota Paskibra Luwu Timur, Sulawsi Selatan, dibekali sepatu dengan merek ?HOKA? saat menjalani latihan persiapan pengibaran bendera pusaka. Namun, sepatu yang disebut-sebut bernilai Rp 2-3 juta itu justru mengalami kerusakan setelah baru sekali dipakai, Jumat (22/8/2025)

    Luwu Timur – Media sosial dihebohkan dengan kabar sepatu anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang rusak setelah hanya sekali digunakan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Padahal, sepatu tersebut diketahui dibeli dengan harga mencapai jutaan rupiah.

    Kronologi Sepatu Rusak

    Peristiwa ini pertama kali terungkap dari unggahan foto dan video di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat sol sepatu Paskibra mengelupas dan terlepas, padahal baru sekali dipakai untuk tugas upacara. Kejadian ini langsung memicu beragam komentar dari warganet yang mempertanyakan kualitas sepatu yang digunakan.

    Harga Tinggi, Kualitas Dipertanyakan

    Menurut informasi dari orang tua anggota Paskibra, sepatu tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta per pasang. Namun kualitas yang tidak sesuai dengan harga membuat publik geram. Banyak pihak menilai ada dugaan pemborosan anggaran atau salah memilih penyedia barang.

    “Kami kecewa, karena harganya mahal tapi baru sekali dipakai langsung rusak,” ujar salah satu orang tua siswa.

    Respons Pemerintah Daerah

    Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menyatakan akan segera melakukan evaluasi terkait pengadaan sepatu Paskibra. Pihak Dinas Pendidikan dan instansi terkait berjanji menelusuri pihak penyedia serta memastikan ke depan kejadian serupa tidak terulang.

    “Kami akan memanggil pihak yang bertanggung jawab dan melakukan klarifikasi mengenai kualitas sepatu yang disediakan,” kata perwakilan Pemkab Luwu Timur.

    Baca Juga :

    Kisah Adam Air Salah Mendarat: Pilot Tak Sadar Pesawat Keluar Jalur, Penumpang Mengira Tiba di Sulawesi

    Viral di Media Sosial

    Kabar sepatu Paskibra yang rusak sekali pakai ini dengan cepat menjadi viral di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menyuarakan kritik sekaligus memberikan dukungan kepada para anggota Paskibra yang sudah berlatih keras namun harus menghadapi insiden memalukan ini.

    Beberapa netizen bahkan menyarankan agar pemerintah daerah lebih transparan dalam proses pengadaan perlengkapan resmi, terutama yang melibatkan anak-anak sekolah dalam acara penting kenegaraan.

    Kategori: Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Pendidikan, Pemerintahan, ViralTag: Sepatu Paskibra, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Upacara 17 Agustus, Viral, Pengadaan Barang

     

  • Kisah Adam Air Salah Mendarat: Pilot Tak Sadar Pesawat Keluar Jalur, Penumpang Mengira Tiba di Sulawesi

    Ilustrasi pesawat. Kisah pesawat Adam Air salah mendarat di Bandara Tambolaka pada 2 Februari 2006.

    Insiden Salah Mendarat yang Menghebohkan

    Jakarta – Maskapai Adam Air pernah mencatat kisah unik yang masih dikenang hingga kini. Pesawat yang seharusnya menuju Manado, Sulawesi Utara, justru salah mendarat di Makassar, Sulawesi Selatan. Insiden ini membuat penumpang terkejut sekaligus kebingungan.

    Kejadian ini berlangsung pada awal 2000-an ketika Adam Air masih beroperasi. Pada saat itu, pilot dan kru tidak menyadari bahwa pesawat keluar jalur dari rute seharusnya.

    Pilot Tak Sadar Keluar Jalur

    Menurut laporan otoritas penerbangan, penyebab salah mendarat diduga karena kesalahan navigasi. Sistem komputer pesawat diduga mengalami gangguan, sementara kru tidak segera menyadari adanya deviasi arah.

    Dengan demikian, pesawat akhirnya diarahkan ke Bandara Hasanuddin, Makassar. Padahal, tujuan aslinya adalah Bandara Sam Ratulangi di Manado.

    Penumpang Sempat Mengira Sudah Tiba

    Menariknya, sebagian penumpang awalnya mengira pesawat memang sudah tiba di Sulawesi sesuai jadwal. Namun, setelah mendengar pengumuman dari awak kabin, mereka baru sadar lokasi yang dituju berbeda.

    Kendati begitu, kondisi penumpang tetap aman. Tidak ada insiden serius selain keterlambatan jadwal penerbangan.

    Kritik untuk Maskapai

    Insiden salah mendarat ini sempat memicu kritik publik terhadap kinerja Adam Air. Otoritas penerbangan pun melakukan evaluasi mendalam terkait sistem navigasi maskapai tersebut.

    Selain itu, peristiwa ini juga menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah penerbangan sipil Indonesia, khususnya mengenai pentingnya sistem navigasi yang akurat dan pengawasan ketat dari kru pesawat.

    Baca Juga :

    Malili Luwu Timur Kembangkan Ekonomi Hijau dan Energi Berkelanjutan

    Pelajaran untuk Dunia Penerbangan

    Kisah Adam Air salah mendarat kini kerap dijadikan contoh kasus dalam pembelajaran penerbangan. Hal ini menegaskan bahwa kesalahan sekecil apa pun dalam navigasi bisa berdampak besar terhadap keselamatan penerbangan.

    Dengan adanya kejadian ini, maskapai lain di Indonesia semakin meningkatkan standar keamanan penerbangan. Karena itu, industri penerbangan nasional dituntut untuk selalu memperbarui sistem navigasi agar insiden serupa tidak terulang.

    Kategori: Berita, Nasional, Transportasi, Penerbangan, Insiden
  • Makassar Pusat MICE Indonesia Timur, 3 Fasilitas Baru Resmi Beroperasi

    Peresmian Plataran Makassar Venues and Dining di Summarecon Mutiara Makassar, Jumat (15/8/2025).

    Makassar Kian Mantap sebagai Pusat MICE

    Kota Makassar semakin memperkuat posisinya sebagai pusat Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di kawasan Indonesia Timur.

    Dengan letak strategis, infrastruktur modern, dan dukungan pemerintah daerah, Makassar kini menjadi destinasi unggulan untuk berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional.

    Kehadiran fasilitas baru menambah daya saing kota ini di sektor pariwisata dan bisnis.

    Tiga Fasilitas Baru Resmi Beroperasi

    Pemerintah Kota Makassar meresmikan tiga fasilitas MICE terbaru yang siap melayani masyarakat dan pelaku industri.

    Fasilitas tersebut mencakup gedung pertemuan berkapasitas besar, convention center modern, serta exhibition hall berstandar internasional.

    Ketiganya dirancang untuk menunjang kebutuhan acara dari skala lokal hingga global.

    Dukungan Infrastruktur Kota

    Selain fasilitas MICE, Makassar juga memiliki jaringan transportasi yang memadai, termasuk Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

    Ketersediaan hotel berbintang, jaringan kuliner khas, dan sarana hiburan turut mendukung kenyamanan peserta kegiatan.

    Semua faktor ini membuat Makassar semakin siap menjadi tuan rumah event berskala besar.

    Daya Tarik Bisnis dan Pariwisata

    MICE di Makassar tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor bisnis, tetapi juga pariwisata daerah.

    Peserta konvensi dan pameran biasanya meluangkan waktu untuk menjelajahi destinasi wisata seperti Pantai Losari dan Benteng Rotterdam.

    Hal ini memberi efek ganda terhadap ekonomi lokal, mulai dari transportasi, kuliner, hingga UMKM.

    Kolaborasi Pemerintah dan Swasta

    Keberhasilan pengembangan MICE di Makassar merupakan hasil kolaborasi erat antara pemerintah daerah dan sektor swasta.

    Banyak investor yang kini tertarik menanamkan modal di bidang perhotelan, restoran, dan jasa penunjang event.

    Kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan daerah.

    Baca Juga :

    Malili Luwu Timur Kembangkan Ekonomi Hijau dan Energi Berkelanjutan

    Prospek ke Depan

    Dengan pengoperasian tiga fasilitas baru, Makassar diproyeksikan mampu menampung lebih banyak event internasional.

    Target jangka panjang adalah menjadikan Makassar sebagai hub utama MICE di kawasan Asia Tenggara bagian timur.

    Upaya ini akan semakin memperkuat citra Makassar sebagai kota modern dengan identitas budaya yang kuat.

    Kategori: Ekonomi | Pariwisata | InfrastrukturTag: MICE Makassar, Pusat Konvensi, Exhibition Center, Bisnis Indonesia Timur, Pariwisata Sulsel, Event Internasional, Makassar Modern

  • Malili Luwu Timur Kembangkan Ekonomi Hijau dan Energi Berkelanjutan

    Kawasan Digital Tirta Empul

    Malili, Luwu Timur – Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menjadikan Malili sebagai pusat pembangunan ekonomi hijau dan energi berkelanjutan. Kota ini diproyeksikan menjadi motor penggerak investasi di Sulawesi Selatan bagian timur.

    Pusat Administrasi Kabupaten

    Malili berfungsi sebagai ibu kota Kabupaten Luwu Timur sejak pemekaran wilayah pada tahun 2003. Pusat pemerintahan modern terus dibangun agar pelayanan publik lebih efisien.

    Pemerintah daerah juga memfokuskan pembangunan pada tata kota yang lebih tertata dan ramah lingkungan.

    Peran Strategis di Luwu Raya

    Letak Malili yang strategis di pesisir Teluk Bone menjadikannya pintu gerbang penting bagi arus barang dan jasa. Kota ini sekaligus menjadi simpul konektivitas antara daratan Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Tengah.

    Dengan posisi tersebut, Malili mendapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan nasional.

    Industri Pertambangan dan Energi

    Luwu Timur dikenal sebagai daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia. Malili menjadi pusat administrasi sekaligus lokasi koordinasi berbagai perusahaan tambang.

    Pemerintah daerah kini menekankan pentingnya transisi ke praktik pertambangan ramah lingkungan untuk menjaga keseimbangan alam.

    Pertanian dan Perikanan

    Selain tambang, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung masyarakat. Komoditas padi, kakao, dan jagung mendominasi lahan pertanian sekitar Malili.

    Di sisi lain, potensi perikanan laut juga berkembang pesat berkat posisi kota ini yang berbatasan langsung dengan Teluk Bone.

    Infrastruktur Transportasi

    Malili tengah mempercepat pembangunan jalan penghubung menuju Sorowako dan Wasuponda. Infrastruktur ini memperlancar distribusi hasil tambang maupun hasil pertanian.

    Selain jalan darat, pemerintah juga menjajaki pengembangan pelabuhan baru untuk mendukung perdagangan.

    Wisata Alam dan Bahari

    Kawasan Malili memiliki potensi wisata yang terus digarap. Pantai indah di sepanjang Teluk Bone menjadi daya tarik wisata bahari.

    Selain itu, kawasan perbukitan dan sungai di sekitar Malili juga cocok dikembangkan sebagai wisata ekowisata.

    Pendidikan dan Pengembangan SDM

    Sejumlah sekolah baru dibangun untuk meningkatkan akses pendidikan di Malili. Perguruan tinggi swasta juga mulai hadir sebagai pusat pengembangan SDM.

    Langkah ini diharapkan mampu mencetak tenaga kerja lokal yang kompetitif di bidang industri dan jasa.

    Kesehatan dan Layanan Publik

    Rumah sakit daerah di Malili terus ditingkatkan fasilitasnya agar mampu melayani masyarakat Luwu Timur secara menyeluruh.

    Pemerintah daerah juga menggalakkan program kesehatan berbasis komunitas untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat.

    Kebudayaan Luwu Timur

    Malili turut melestarikan budaya khas Luwu melalui berbagai festival tahunan. Seni tari, musik tradisional, dan pakaian adat menjadi bagian penting dari identitas kota ini.

    Festival budaya tidak hanya memperkuat kebanggaan lokal, tetapi juga menarik wisatawan domestik.

    Mendorong UMKM Lokal

    Pelaku UMKM di Malili mendapat dukungan modal dan pelatihan dari pemerintah daerah. Produk olahan hasil pertanian mulai dipasarkan lebih luas.

    Digitalisasi pemasaran juga diperkuat agar UMKM lokal dapat bersaing di pasar global.

    Lingkungan dan Keberlanjutan

    Kesadaran akan isu lingkungan terus meningkat di Malili. Program reboisasi dan penataan ruang hijau menjadi prioritas.

    Pemerintah berkomitmen menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan konservasi alam.

    Baca Juga : Malaysia Ngotot Sebut Ambalat “Laut Sulawesi”, Prabowo Pilih Opsi Damai

    Malili Menuju Kota Modern

    Dengan beragam potensi dan pembangunan yang terus berlangsung, Malili bergerak menuju kota modern. Peran strategisnya di kawasan Luwu Timur semakin menguat.

    Kombinasi sektor energi, pertanian, dan wisata menjadikan Malili sebagai pusat pertumbuhan baru di Sulawesi Selatan.

    Kategori: Ekonomi Daerah, Pembangunan, Lingkungan, Sulawesi Selatan

    Tag: Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Ekonomi Hijau, Pertambangan Nikel, Wisata Teluk Bone

  • Malaysia Ngotot Sebut Ambalat “Laut Sulawesi”, Prabowo Pilih Opsi Damai

    Ilustrasi Blok Ambalat yang menjadi sengketa antara Indoensia dan Malaysia

    Ambalat Laut Sulawesi kembali menjadi sorotan setelah Malaysia bersikukuh menyebut kawasan itu sebagai bagian dari Laut Sulawesi. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tetap mengedepankan opsi damai untuk menjaga stabilitas kawasan.

    Latar Belakang Sengketa Ambalat

    Ambalat terletak di perairan Kalimantan Timur yang kaya sumber daya migas. Selama bertahun-tahun wilayah ini menjadi sengketa antara Indonesia dan Malaysia.

    Klaim Malaysia kerap memicu protes publik di Indonesia, termasuk insiden patroli laut dan penangkapan nelayan.

    Pemerintah Indonesia menegaskan Ambalat adalah bagian sah dari wilayah kedaulatan NKRI.

    Pernyataan Malaysia

    Pemerintah Malaysia melalui pejabat resminya masih ngotot mengategorikan Ambalat sebagai wilayah Laut Sulawesi.

    Alasan yang digunakan antara lain kedekatan geografis dan interpretasi peta batas laut internasional.

    Sikap ini dinilai sebagian pihak dapat memicu ketegangan diplomatik bila tidak segera diselesaikan.

    Respons Prabowo Subianto

    Menhan Prabowo Subianto menekankan bahwa Indonesia tetap pada posisi diplomasi damai.

    Menurutnya, stabilitas kawasan lebih penting daripada konfrontasi terbuka.

    Ia menegaskan, pertahanan Indonesia tetap siaga penuh, namun diplomasi akan diutamakan.

    Upaya Diplomasi dan Jalur Hukum

    Kementerian Luar Negeri Indonesia terus melakukan komunikasi dengan Malaysia terkait klaim ini.

    Selain jalur diplomasi, opsi hukum internasional juga terbuka jika negosiasi menemui jalan buntu.

    Sejumlah pakar hukum laut menilai UNCLOS dapat menjadi rujukan utama dalam penyelesaian sengketa.

    Baca juga :

    Kebijakan Royalti Musik Warkop Luwu, Usaha Terancam dan Pengunjung Turun

    Dampak bagi Hubungan Bilateral

    Meskipun terjadi perbedaan klaim, hubungan ekonomi dan sosial kedua negara diupayakan tetap berjalan normal.

    Ambalat dipandang sebagai isu sensitif yang harus ditangani dengan hati-hati agar tidak merusak kerja sama strategis.

    Warga di wilayah perbatasan berharap solusi damai segera tercapai.

    Catatan redaksi: Sengketa Ambalat sudah berlangsung sejak lama dan memerlukan solusi jangka panjang berbasis hukum internasional.

     

  • Kebijakan Royalti Musik Warkop Luwu, Usaha Terancam dan Pengunjung Turun

    Isu kewajiban membayar royalti untuk lagu yang diputar di kafe dan warung kopi (warkop) kembali menjadi polemik. Di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kebijakan ini membuat pemilik usaha kecil khawatir, terutama karena bisa menambah beban biaya operasional dan berpotensi menurunkan jumlah pelanggan. Jumat (08/8/2025)

    Kebijakan royalti musik warkop Luwu memunculkan keresahan di kalangan pemilik warung kopi.

    Sejumlah pengusaha kecil mengeluhkan kewajiban membayar royalti atas pemutaran musik di tempat usaha mereka, yang dianggap memberatkan di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit.

    Pengunjung Turun, Omzet Menyusut

    Sejak aturan tersebut disosialisasikan, beberapa warkop di Kabupaten Luwu mengalami penurunan jumlah pengunjung.

    Pemilik usaha menilai suasana warkop yang biasanya ramai dengan musik kini terasa sepi karena mereka memilih mematikan hiburan untuk menghindari beban biaya tambahan.

    “Sejak kami hentikan musik, pelanggan banyak yang pindah ke tempat lain. Padahal musik adalah bagian dari suasana warkop,” ungkap salah satu pemilik warkop di Luwu.

    Beban Biaya Operasional Bertambah

    Menurut pengusaha kecil, pembayaran royalti musik tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka peroleh setiap harinya. Dalam situasi ekonomi yang serba terbatas, tambahan beban biaya dianggap dapat mempercepat kebangkrutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.

    Tuntutan Dialog dan Solusi

    Asosiasi UMKM lokal mendesak pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk meninjau ulang kebijakan tersebut.

    Mereka berharap adanya solusi berupa keringanan biaya,

     

    pengecualian bagi usaha kecil, atau skema subsidi agar warkop tetap bisa beroperasi tanpa harus kehilangan daya tariknya.

    Pemerintah daerah Luwu menyatakan akan menampung aspirasi pelaku usaha dan menjembatani dialog antara lembaga pengelola royalti dengan UMKM setempat.

    Baca Juga : Malili Siapkan Pembangunan Pelabuhan Baru untuk Perkuat Perdagangan Luwu Timur

    Dampak Lebih Luas

    Kebijakan ini juga dinilai dapat memengaruhi iklim usaha di sektor informal lainnya.

     

    Warkop sebagai ruang sosial dan ekonomi masyarakat berperan penting, terutama bagi kalangan anak muda dan pekerja harian yang menjadikannya tempat berkumpul.

     

  • Malili Siapkan Pembangunan Pelabuhan Baru untuk Perkuat Perdagangan Luwu Timur

    Pemekaran Luwu Timur Diusulkan, Akselerasi Pembangunan Luwu Raya Jadi Fokus Utama
    Pemekaran Luwu Timur Diusulkan, Akselerasi Pembangunan Luwu Raya Jadi Fokus Utama

    Malili — Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mengumumkan rencana pembangunan pelabuhan baru yang akan menjadi pintu gerbang perdagangan dan logistik di wilayah timur Sulawesi Selatan.

    Lokasi Strategis di Pesisir Malili

    Pelabuhan ini direncanakan berlokasi di kawasan pesisir Malili yang memiliki akses langsung ke jalur pelayaran utama, memudahkan distribusi barang ke berbagai wilayah di Indonesia.

    Selain itu, posisi strategisnya diharapkan memicu pertumbuhan sektor perikanan dan industri pengolahan.

    Fasilitas Modern dan Ramah Lingkungan

    Proyek ini akan dilengkapi dermaga modern, gudang penyimpanan, dan sistem bongkar muat otomatis. Pemerintah juga menekankan pentingnya penerapan teknologi ramah lingkungan untuk meminimalkan dampak terhadap ekosistem laut.

    Upaya ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan yang diusung oleh Luwu Timur.

    Dukungan dari Pemerintah Pusat

    Pembangunan pelabuhan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan, termasuk dalam bentuk pendanaan dan bantuan teknis.

    Dengan dukungan ini, proyek ditargetkan mulai konstruksi pada awal tahun depan.

    Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja

    Keberadaan pelabuhan baru diyakini akan membuka peluang investasi baru, meningkatkan arus perdagangan, dan menciptakan lapangan kerja bagi ribuan warga.

    Pemerintah berharap hal ini dapat menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi pasca pandemi.

    Keterlibatan Masyarakat Lokal

    Masyarakat setempat dilibatkan sejak tahap perencanaan melalui forum diskusi publik. Hal ini dilakukan untuk memastikan pelabuhan dibangun sesuai kebutuhan daerah.

    Selain itu, pemerintah menjanjikan prioritas rekrutmen bagi tenaga kerja lokal.

    Baca Juga :Banjir Bandang Terjang Malili, Ratusan Rumah Warga Luwu Timur Terendam

    Harapan Menuju Pusat Perdagangan Baru

    Bupati Luwu Timur optimistis pelabuhan ini akan menjadikan Malili sebagai salah satu pusat perdagangan baru di Sulawesi Selatan.

    “Kami ingin pelabuhan ini menjadi kebanggaan masyarakat Luwu Timur,” ujarnya.

  • Banjir Bandang Terjang Malili, Ratusan Rumah Warga Luwu Timur Terendam

    Banjir yang merendam Desa Laskap, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, akibat meluapnya sungai Pongkeru, kini mulai surut, Rabu (17/1/2024)
    Banjir yang merendam Desa Laskap, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan
    Malili, Luwu Timur (Sulawesi Selatan) Banjir bandang melanda Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur pada Sabtu malam (15/8), setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari lima jam. Air dengan ketinggian hingga satu meter merendam ratusan rumah warga di beberapa desa.

    Curah Hujan Tinggi Picu Luapan Sungai

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur melaporkan bahwa banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Malili akibat intensitas hujan yang tinggi. Beberapa titik tanggul tidak mampu menahan tekanan air sehingga meluber ke permukiman penduduk.

    Warga Dievakuasi ke Lokasi Aman

    Petugas gabungan TNI, Polri, dan relawan segera melakukan evakuasi warga ke tempat yang lebih aman. Posko pengungsian sementara telah dibuka di Gedung Serbaguna Malili dan beberapa sekolah setempat. Hingga berita ini diturunkan, tercatat lebih dari 450 jiwa mengungsi.

    Dampak Terhadap Infrastruktur

    Banjir juga merusak beberapa fasilitas umum, termasuk jalan penghubung antar desa, jembatan kecil, serta jaringan listrik di beberapa wilayah. PLN setempat terpaksa memutus aliran listrik untuk mencegah korsleting.

    BMKG Keluarkan Peringatan Dini

    BMKG Sulawesi Selatan memperingatkan adanya potensi hujan lebat disertai petir di wilayah Luwu Timur dalam dua hingga tiga hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau perkembangan cuaca dan segera mengungsi bila kondisi air mulai meningkat.

    Baca Juga :

    Pembobolan Toko Emas di Luwu Timur, Pelaku Gasak 162,8 Gram Emas

    Pemerintah daerah bersama instansi terkait tengah menyalurkan bantuan darurat seperti makanan siap saji, air bersih, dan selimut kepada warga terdampak. Tim kesehatan juga dikerahkan untuk mencegah penyebaran penyakit pascabanjir.

    Kategori: Peristiwa, Sulawesi Selatan, Bencana Alam

    Tag: banjir Malili, banjir Luwu Timur, bencana Sulawesi Selatan, luapan Sungai Malili, BPBD Luwu Timur